/
Business & Transformation
AI prompt secara harfiah dapat diartikan sebagai sebuah perintah bagi mesin dengan basis kecerdasan buatan untuk melakukan apa yang diinginkan oleh penggunanya. Dengan kata lain, semakin ahli seseorang merangkai AI prompt maka hasil pencarian atau tugas yang dikerjakan oleh mesin kecerdasan buatan itu semakin baik.
Di masa depan, diprediksi akan ada sejumlah pekerjaan yang berhubungan dengan keahlian merangkai perintah bagi mesin bermodel kecerdasan buatan. Apa saja kira-kira jenis pekerjaan yang terkait dengan AI prompt?
Pekerjaan yang Membutuhkan AI Prompt
Dengan mendalami kemampuan AI prompt, seseorang bisa mendapat kesempatan untuk bekerja di bidang teknologi dan komputerisasi.
AI Content Specialist. Membutuhkan kemampuan merangkai perintah bagi mesin dengan bidang pekerjaan Copywriting, SEO, ataupun pembuatan skenario film.
AI Visual Artist. Membuat perintah teks untuk diterjemahkan ke dalam gambar statis dan bergerak seperti video motion. Bidang pekerjaan seni visual, fotografi dan film.
Prompt Engineer. Membuat library prompt yang efisien, menguji konsistensi jawaban AI, sangat dibutuhkan di perusahaan teknologi yang membangun aplikasi berbasis kecerdasan buatan.
AI Ethics Officer. Tugas utamanya adalah memeriksa dan mengaudit instruksi yang diberikan kepada mesin kecerdasan buatan agar tidak melanggar privasi data dan konten sensitif.
Secara umum jika seseorang memiliki kemampuan AI prompt yang baik, maka dapat dikatakan dia adalah jembatan komunikasi antara bahasa manusia yang kompleks dengan bahasa mesin yang berbasis data. Tanpa penggunaan prompt yang jelas, maka model AI hanyalah sekumpulan algoritma tanpa arahan.
Apakah Kecerdasan Buatan Sungguh Membantu?
Namun sejalan dengan semakin maraknya penggunaan kecerdasan buatan, timbul polemik apakah teknologi canggih ini benar-benar berfungsi dalam membantu manusia?
Tentu saja, dalam konteks meringankan tugas, fungsinya berjalan baik dan efisien. Namun bagaimana dalam konteks lainnya?
Menurut riset yang dilakukan oleh MIT (Massachusetts Institute of Technology) pada 54 respondennya menyebut potensi terjadinya penurunan keterampilan belajar bagi mahasiswa yang membuat esai dengan bantuan kecerdasan buatan.
Hal riset serupa diungkap oleh Carnegie Mellon University yang mensurvey 319 responden dari sektor pekerja swasta yang sering menggunakan AI dalam pekerjaan mereka. Hasilnya, ketergantungan pada AI dapat menurunkan upaya untuk berpikir kritis.
“Meskipun GenAI dapat meningkatkan efisiensi pekerja, hal ini dapat menghambat keterlibatan penting dalam pekerjaan dan berpotensi menyebabkan ketergantungan yang berlebihan pada alat dalam jangka panjang dan berkurangnya keterampilan untuk menyelesaikan masalah secara mandiri,” demikian kesimpulan risetnya dikutip dari BBC.
Oxford University Press (OUP) juga sempat melakukan riset pada anak usia sekolah di Inggris. Mereka menemukan hasil 6 dari 10 anak-anak itu merasakan dampak negatif AI dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah.
Namun demikian, menurut Dr. Alexandra Tomescu, seorang spesialis AI generatif di OUP yang mengerjakan survei hal tersebut tidak serta merta.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa sembilan dari 10 siswa mengatakan AI telah membantu mereka mengembangkan setidaknya satu keterampilan yang berkaitan dengan pekerjaan sekolah - baik itu pemecahan masalah, kreativitas, atau revisi. Namun pada saat yang sama, sekitar seperempatnya menyatakan bahwa penggunaan AI membuat pekerjaan mereka terlalu mudah," ujar Alexandra.
Mendalami AI Dengan Bertanggung Jawab
Mahir menggunakan AI prompt adalah salah satu skill yang menjanjikan untuk di dalami di masa depan. Dengan memahami konteks dan memahami kecerdasan buatan, diharapkan akan tumbuh rasa keingintahuan yang besar dan berlandaskan tanggung jawab.
Secara jelas di tengah perkembangan era digital yang sangat dinamis, menguasai seni berkomunikasi dengan AI akan menjadi aset yang tak ternilai.
Dengan pemanfaatan yang bijak dan kreatif, AI prompt mampu memperluas batasan produktivitas manusia. Apakah Anda setuju dengan hal ini?




