ChatGPT Untuk Pendidikan, Tabu atau Tidak?

ChatGPT Untuk Pendidikan, Tabu atau Tidak?

/

Technology & AI

Penggunaan ChatGPT sebagai salah satu model besar bahasa (LLM - Large Language Model) semakin meluas. Berdasarkan data dari OpenAI, kini pengguna aktifnya menyentuh angka 900 juta orang per minggu. Sementara 5,4 miliar jumlah kunjungan per bulan tercatat masuk di websitenya. 

Data tersebut juga menyebut, hampir 888 juta pengunjung unik (unique visitors) mampir setiap bulan. Dan sebanyak 50 juta lebih membernya melakukan subscribe alias berlangganan. Hal ini membuat ChatGPT memperoleh pendapatan tahunan hingga lebih dari 25 miliar USD per tahun 2025. 

Masifnya penggunaan LLM bukan tanpa sebab. Kemampuannya menyajikan segala jenis informasi yang dibutuhkan pengguna menjadi salah satu alasan. Hal ini tentu saja menjadi magnet bagi siapapun yang butuh kecepatan dan akurasi tanpa perlu mengorbankan banyak waktu di depan layar gawainya.

Tidak hanya dipakai untuk pembuatan konten kreatif, bahkan kalangan pelajar pun hampir dipastikan memakainya untuk tujuan edukasi dan pendidikan. Ini tentu menimbulkan pertanyaan mendasar, seberapa perlu anak usia pelajar menggunakan ChatGPT?

Polemik ChatGPT Bagi Pelajar

Baru-baru ini di Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengeluarkan SKB (Surat Keputusan Bersama) yang berisi Pedoman Pemanfaatan Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial (AI) di jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. 

Singkatnya, penggunaan LLM seperti ChatGPT di lingkup pendidikan dasar dan menengah di Indonesia itu tidak diperbolehkan alias terlarang. Hal itu dikatakan, “Hal ini untuk menghindari brain rot dan pengurangan kemampuan kognitif,” pungkas Pratikno.

Meski demikian, Pratikno tidak melarang sepenuhnya penggunaan AI Model itu terutama yang dipakai untuk mendukung proses pelajaran. Simulasi pendidikan robotik untuk sekolah dasar bisa saja menggunakan AI, tetapi itu memang dirancang untuk kebutuhan pendidikan,” tambah Pratikno lagi seperti dikutip Detik.

Kekhawatiran Global

Hal senada juga tampaknya melanda seluruh kawasan di dunia. Di Amerika Serikat misalnya, sebuah studi yang diterbitkan oleh MIT (Massachusetts Information of Technology) menyebut efek negatif dari penggunaan AI Model oleh mahasiswanya.

Riset mengungkap adanya potensi terjadinya penurunan keterampilan belajar bagi mahasiswa yang membuat esai dengan bantuan kecerdasan buatan. Hal yang sama juga diungkap oleh Carnegie Mellon University di Pittsburgh, Amerika Serikat.

Mereka mengungkap para responden yang kerap menggunakan LLM seperti ChatGPT mengalami penurunan upaya untuk berpikir kritis. 

Sementara di Inggris, dalam laporan yang diterbitkan Guardian menyebut 2/3 guru sekolah yang disurvey menemukan adanya penurunan kapasitas berpikir kritis pada siswa yang sering menggunakan AI. 

Hal serupa juga ditemukan dalam hasil riset di University of Technology Sydney yang ungkap adanya digital amnesia atau efek Google dari para respondennya. Dalam artian ketika tugas-tugas analisis kompleks (seperti menyusun argumen atau memecahkan masalah logika) didelegasikan sepenuhnya ke AI, "otot kognitif" otak untuk berpikir kritis perlahan melemah karena jarang dilatih.

Apa yang Seharusnya Dilakukan Para Pelajar?

Sebagai pelajar, memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT memang akan dapat membantu memecahkan pertanyaan. Namun demikian ada baiknya penggunaan AI Model ini tetap didiskusikan dengan guru atau orangtua sebagai bentuk pengawasan dan pembimbingan.

Apa yang harus dilakukan para pelajar untuk memanfaatkan kecanggihan teknologi ini tanpa harus kehilangan daya nalar kritis dan kemampuan kognitifnya?

  • Membatasi penggunaan LLM seperti ChatGPT sebatas mencari informasi awal.

  • Bertanya langsung kepada guru atau orangtua/pembimbing mengenai hal-hal yang belum dipahami terkait materi yang ditanyakan via AI Model.

  • Membuat rangkuman materi dari informasi yang didapatkan oleh ChatGPT dengan penalaran dan pengembangan pengetahuan lain yang didapatkan dari guru/pembimbing.

  • Mendiskusikan hasil rangkuman materi tadi dengan guru/pembimbing untuk mendapatkan arahan lebih lanjut.

Dengan melakukan sejumlah langkah di atas, pelajar dapat tetap bertanggung jawab menjalani proses belajar memanfaatkan ChatGPT.

Terlepas dari polemik penggunaan LLM seperti ChatGPT, Gemini dll, pengawasan dan arahan orang tua/guru pembimbing terhadap proses pencarian informasi bagi pelajar tetap dibutuhkan. 

Kalau menurut Anda, apakah para pelajar diperbolehkan menggunakan ChatGPT untuk berbagai tugas dan penyelesaian materi pelajaran? Ataukah Anda termasuk orang yang melarang akses penggunaannya di usia pelajar?



Related News